Diaspora Inggris-Menristek/BRIN Bedah Perkembangan Riset dan Inovasi di Indonesia

@Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) London

14 Februari 2020


Hari Valentine tahun ini cukup spesial. Saya sebagai Ketua Umum Nusantara Innovation Forum (NIF) menghadiri acara Dialog Menteri Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Republik Indonesia (RI), Profesor Bambang Brodjonegoro dengan Diaspora RI di Inggris.

Foto 1. Menrisktek/BRIN, Prof. Bambang Brodjonegoro, bersama diaspora Indonesia di Inggris.


Dialog tersebut menyinggung tentang rendahnya dana pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan (litbang) berbagai industri di tanah air. Menurut data The World Bank tahun 2017, negara berkembang rata-rata menghabiskan lebih dari 2% GDP mereka untuk litbang, sementara Indonesia hanya mengeluarkan 0,24% dari total GDP [1]. Profesor Bambang menyebut, industri swasta di Indonesia enggan mengambil risiko untuk mendanai riset inovasi di tahap awal. Pemerintah juga belum memberi cukup insentif bagi industri untuk berinvestasi ke hulu, misalnya potongan pajak yang umum diterapkan di negara-negara maju. Alhasil, banyak industri di Indonesia masih beroperasi di ranah ekploitasi sumber daya alam mentah yang belum ada nilai tambahnya.


Selain itu, strategi dan perencanaan proyek-proyek riset hilir dan tepat guna dinilai belum optimal. Riset hilir dan tepat guna bersumber dari masalah yang dihadapi oleh masyarakat, termasuk institusi pemerintah maupun kelompok tertentu. Penerapan hasil riset tersebut akan menyelesaikan masalah tersebut secara terukur. Nyatanya, hingga saat ini riset-riset penerima dana hibah pemerintah masih berkutat pada riset dasar tanpa parameter hasil yang jelas. Terlebih lagi, luaran riset hanya bermuara pada laporan kinerja riset atau, jika beruntung, jurnal internasional. Namun, riset tersebut belum mengarah pada adidaya terapan. Pemerintah sebagai penyedia dana terbesar agaknya belum memiliki motivasi internal untuk mengembangkan hasil riset menjadi inovasi terapan.

Foto 2. Keluarga besar dan pendukung NIF. Dari kiri ke kanan: Dr. Bagus Muljadi, Pak Ahmad Yuniarto, dr. Sandra Halim, Prof. Bambang Brodjonegoro, Pak Muhammad Dimyati (Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan Kemristek), drg. Lilis Iskandar, dan dr. Eric D. Tenda, Sp.PD.

Foto 3. Ketua NIF, drg. Lilis Iskandar, mempresentasikan NIF.


Agaknya Kemristek/BRIN masih perlu mengevaluasi kebijakan yang diambil untuk mengintervensi dan mengarahkan produktivitas hasil riset. Memang riset dasar penting untuk membangun fondasi ilmu pengetahuan dan pengembangan riset terapan. Namun, saya rasa Indonesia perlu berpikir strategis dalam mengarahkan investasi dana risetnya untuk menjawab tantangan nyata yang dihadapi masyarakat serta meningkatkan nilai ekonomi bangsa. Jika Indonesia ingin mempercepat pengembangan ekonomi dan kualitas hidup masyarakat, penciptaan ekosistem pengembangan riset dan inovasi yang subur dan kondusif merupakan kunci utama.

---


Referensi:

[1] The World Bank. Research and development expenditure (% of GDP). https://data.worldbank.org/indicator/GB.XPD.RSDV.GD.ZS (19/02/2020).


Tentang Penulis:

drg. Lilis Iskandar adalah mahasiswi doktoral di King’s College London, tepatnya di Centre for Oral, Clinical and Translational Sciences – Faculty of Dentistry, Oral & Craniofacial Sciences. Ia merupakan awardee Beasiswa Pendidikan Indonesia Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (BPI LPDP) sejak tahun 2016. Ia juga merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI) di tahun 2014. Saat ini, Lilis adalah Ketua Umum Nusantara Innovation Forum (NIF), yang merupakan komunitas non-profit yang bertujuan untuk mendorong pengembangan dan penerapan hasil-hasil riset dan inovasi guna mendukung pembangunan Indonesia.

17 views

©2020 by Nusantara Innovation Forum.